Kepada para demonstran 'Occupy'

Monday, October 31, 2011

Dukungan dan solidartas!
Kami sangat terinspirasi dengan pendudukan Wall Street dan pendudukan ditempat lain. Akhirnya, orang-orang turun kejalan kembali! Momentum seputar aksi ini sangat berpotensi menghidupkan kembali protes dan perlawanan di setiap negeri. Kami harap kependudukan ini akan meningkat dalam jumlah dan hal-hal yang mendasarinya, dan kami sebisanya akan mendukungnya.

Kenapa kalian harus mendengarkan kami?
Singkatnya, karena kami sudah mengalami ini sejak lama. Kami menghabiskan bartahun-tahun bertarung melawan kapitalisme, mengorganisir aksi pendudukan, dan membuat keputusan secara konsensus. Jika pergerakan yang baru ini tidak mempelajari kesalahan yang dulu, kami pastikan kesalahan itu akan terulang lagi. Kami coba meringkas beberapa pelajaran yang sulit untuk dimenangkan dalam situasi pendudukan.

Occupation (pendudukan) sama sekali bukan hal yang baru
Wilayah yang kita tinggali sekarang adalah wilayah yang telah diduduki. Setiap negeri (termasuk Indonesia) dibangun diatas pemusnahan terhadap penduduk asli dan kolonialisasi tanah mereka, termasuk juga perbudakan dan eksploitasi selama berabad-abad. Agar aksi kependudukan dapat dipahami, maka hal itu harus dimulai dari sejarahnya. Lebih baik lagi, hal tersebut merangkul dan memperluas gerakan tersebut, mulai dari; sejarah perlawanan penduduk asli dan pemberontakan budak menuju pergerakan pekerja dan anti perang sampai gerakan anti globalisasi.

99% adalah bukan satu badan sosial, tetapi banyak badan-badan sosial.
Sebagian besar para demonstran menyampaikan narasi ’99%’ adalah karakter dari massa yang homogen. Kehadiran massa dianggap mewakili ‘penduduk asli’ terlihat mencurigakan, sebab didominasi oleh kulit putih, seperti yang sering ditampilkan di televisi, meskipun mereka membuat komunitas yang minor dari populasi umum.
Ini merupakan kesalahan yang tertutupi oleh keberagaman kita. Tidak semua orang telah sadar dari ketidak-adilan kapitalisme untuk pertama kalinya; beberapa populasi telah menjadi sasaran dari struktur kekuasaan selama bertahun-tahun bahkan generasi. Pekerja kelas menengah yang baru saja kehilangan posisinya dalam struktur sosial dapat belejar banyak dari mereka yang telah lama melakukan perlawanan.

Permasalahannya bukan hanya menunjuk satu orang didalam sebuah grup atau korporasi (bad apples)
Krisis ekonomi bukan lahir dari sifat kepentingan diri sendiri dari investasi beberapa bankir; melainkan sebuah konsekuensi yang tidak terelakkan dari sistem ekonomi yang mengharuskan berkompetisi (sampai leher putus) disetiap lapisan masyarakat. Kapitalisme bukan cara hidup yang statis! melainkan proses yang sangat dinamis, yang mengkonsumsi apa saja, merubah dunia menjadi profit dan meruntuhkannya. Dan sekarang, segalanya telah dituang kedalam api, sistem mulai runtuh, bahkan bentuk lama dari sistem ini pun terancam. Jawabannya bukan untuk kembali kebentuk awal di mana Kapitalisme ini dimulai – semisal, untuk kembali ke situasi dahulu bukan hanya tidak mungkin tetapi juga tidak menguntungkan bagi kaum ’99%’. Untuk keluar dari kekacauan inni, kita harus menemukan jalan lain yang baru didasari untuk semua orang dan dunia disekitar kita.

Polisi tidak dapat dipercaya
Polisi mungkin saja seorang ‘karyawan biasa’, tetapi tugasnya adalah untuk melindungi kepentingan kelas pengasa. Selama dia masih sebagai karyawan polisi, kita tidak dapat memasukkannya kedalam aksi ini, meskipun mereka bersahabat. Para demonstran ‘occupy’ yang tidak memahami hal ini akan segera memahaminya ketika mereka terancam oleh ketidakseimbangan kekayaan dan kekuasaan yang mendasari struktur sosial kita. Siapapun yang berpendapat bahwa polisi bertugas untuk melindungi dan melayani masyarakat, mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kemewahan, dan taat hukum.

Jangan menyembah ketaatan terhadap hukum
Hukum melayani untuk melindungi kemewahan dari kekayaan dan kekuasaan; mematuhi hukum bukanlah hak moralitas yang diperlukan – bahkan imoralitas. Perbudakan adalah legal. Nazi juga mempunyai hukum. Kita harus membangun kekuatan terhadap pemahaman untuk melakukan apa yang terbaik menurut sesuai pemahaman kita, tanpa memerlukan hukum.

Untuk mendapatkan partisipan yang beragam, pergerakan itu juga memerlukan ruang untuk taktik yang beragam.
Adalah mengatur dan kepentingan diri sendiri, untuk memahami bag aimana setiap orang seharusnya beraksi untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Mencela pihak lain akan semakin melengkapi pihak penguasa untuk mendelegitimasi kekuasaannya, semakin memisahkan, dan akan menghancurkan pergerakan tersebut secara keseluruhan. Kritik dan debat mendorong pergerakan untuk maju tetapi kekuasaan memanfaatkan hal tersebut. Tujuannya bukan untuk mencela siapa pun dalam mengatur sebuah taktik tetapi untuk menemukan seberapa banyak pencapaian yang menguntungkan bagi semua.

Berhenti beranggapan bahwa mereka yang tidak taat aturan atau yang melawan polisi adalah agen provokator!
Banyak orang-orang yang mempunyai alasan bagus untuk marah. Tidak semua orang berpartisipasi untuk legalitas yang pasif; setiap orang memahami bagaimana membela dirinya sendiri. Kekerasan polisi tidak hanya bermaksud untuk memprovokasi kita, melainkan untuk mencederai dan menakuti kita untuk tidak melakukan aksi. Dalam konteks ini, membela diri adalah esensial.
Anggapan bahwa mereka yang berada digaris depan berkonfrontasi dengan otoritas adalah bagian (sekutu) dari otoritas, merupakan anggapan yang keliru – konfrontasi adalah hal yang diperlukan untuk menantang status-quo. Dugaan-gugaan adalah tipikal orang-orang yang hidup dalam kemewahan, yang telah dihasut untuk mempercayai pihak otoritas dan untuk takut dengan orang-orang yang tidak taat pada otoritas.

Tidak ada pemerintahan yang memenuhi kebutuhan masyarakat umum sebelum memenuhi kebutuhan mereka untuk berkuasa
Sangat naif untuk berharap kepada pemerintahan. Tujuan utama dari gerakan ‘occupy’ ini seharusnya adalah untuk kebebasan masyarakat dan sebuah otonomi (bukan defenisi otonomi ala pemerintahan daerah), dimana hubungan saling menguntungkan yang mendasarinya – bukan hasrat untuk mewujudkan sentralisasi kekuasaan yang bertanggung jawab. Tidak pernah ada eksis sebuah kekuasaan yang seperti itu, bahkan di tahun 1789, para revolusioner memimpin ‘demokrasi’ bersama para budak, juga kaum kaya dan miskin.
Ini berarti bahwa yang terpenting adalah bukan hanya memenuhi tuntutan kita tetapi juga membangun kekuatan untuk mewujudkan tuntutan kita sendiri. Jika kita melakukan ini secara efektif, maka penguasa akan memperhatikan perjuangan kita secara serius, jika kita terus menjaga dan mempertahankannya. Kita membuat pengaruh besar dengan membangun kekuatan sendiri.
Begitupun, gerakan masa lampau yang jumlahnya sangat banyak, adalah belajar dengan keras untuk membangun birokrasi mereka sendiri. Bagaimanapun itu, ‘demokratik’ hanya akan merusak tujuan awal dari gerakan. Kita tidak seharusnya mencari pemimpin baru dan tidak memerlukan otoritas sentral, juga tidak membutuhkan struktur/bagan untuk mengambil keputusan, kita seharusnya mencari jaan untuk mempertahankan dan memperluas kebebasan, sambil menghapus ketidaksetaraan yang telah menekan kita.

Aksi pendudukan akan berkembang sesuai dengan aksi lanjutan yang kita lakukan
Aksi ‘occupy’ bukan sekedar ‘berkata jujur kepada penguasa’ – ketika kita hanya berbicara, para penguasa akan menutup telinga. Mari menciptakan ruang otonomi yang inisiatif dan mengorganisir aksi langsung yang menentang sumber dari permasalahan masyarakat.
Semoga mimpi kalian menjadi nyata….

0 comments:

  © we will win!!

BringthenoiseAnswerthecall